A. Manusia Sebagai
Makhluk sosial
Manusia
adalah makhluk ciptakan Tuhan dengan struktur dan fungsi yang sangat sempurna
bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia juga diciptakan sebagai
makhluk multidimensional, memiliki akal pikiran dan kemampuan berinteraksi
secara personal maupun sosial. Karena itu manusia disebut sebagai makhluk yang
unik, yang memiliki kemampuan sosial sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial. Di samping itu, semua manusia dengan akal pikirannya mampu
mengembangkan kemampuan tertingginya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yaitu
memiliki kemampuan spiritual, sehingga manusia di samping sebagai makhluk
individual, makhluk sosial, juga sebagai makhluk spiritual. Dalam kenyataannya,
kemampuan fungsional manusia di atas dapat dilakukannya secara simultan dalam
kehidupan sehari-hari sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan sebagai
makhluk spiritual. Namun juga manusia dengan kecerdasannya dapat memisahkan
fungsi-fungsi tersebut berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan serta kondisi
sosial yang mengitarrnya. Kemampuan fungsional inilah yang menjadikan manusia
berbeda secara fundamental dengan makhluk hidup yang lainnya di muka bumi.
Bahkan dengan kekuatan spirituainya maka manusia mampu mengungguli kemampuan
makhluk hidup lainnya.Di sisi lain, karena manusia adalah makhluk sosial, maka
manusia pada dasarnya tidak marnpu hidup sendiri di dalam dunia mi baik sendiri
dalam konteks fisik maupun dalam konteks sosial-budaya. Terutama dalam konteks
sosial-budaya, manusia membutuhkan manusia lain untuk saling berkolaborasi
dalarn pemenuhan kebutuhan fungsi-fungsi sosial satu dengan lainriya. Karena
pada dasarnya suatu fungsi yang dimiliki oleh manusia akan sangat berguna dan
bermanfaat bagi manusia lainnya. Karena fungsi-fungsi sosial yang diciptakan
oleh manusia ditujukan untuk saling berkolaborasi dengan sesama manusia
lainnya, dengan kata lain, manusia menjadi sangat bermartabat apabila
bermanfaat bagi manusia lainnya.
Fungsi-fungsi sosial manusia lahir
dan kebutuhan akan fungsi tersebut oleh orang lain, dengan demikian
produktivitas fungsional dikendalikan oleh berbagai macam kebutuhan manusia.
Setiap manusia memiliki kebutuhan masing-masing secara individual maupun kelompok,
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka perlu adanya perilaku selaras
yang dapat diadaptasi oleh masing-masing manusia. Penyelarasan kebutuhan dan
penyesuaian kebutuhan individu, kelompok dan kebutuhan sosial satu dan lainnya,
menjadi konsentrasi utama pemikiran manusia dalam. masyarakatnya yang beradab.
Sosiologi berpendapat
bahwa tindakan awal dalam penyelarasan fungsi-fungsi sosial dan berbagai
kebutuhan manusia diawali oleh dan dengan melakukan interaksi sosial atau
tindakan komunikasi satu dengan yang lainnya.
Aktivitas interaksi sosial dan tindakan komunikasi itu dilakukan baik secara
verbal, non-verbal maupun simbolis. Kebutuhan adanya sebuah sinergi fungsional
dan akselerasi positif dalam melakukan pemenuhan kebutuhan manusia satu dengan
lainnya mi kemudian melahirkan kebutuhan tentang adanya norma-norma dan
nilai-nilai sosial yang mampu mengatur tindakan manusia dalam memenuhi berbagai
kebutuhannya, Sehingga tercipta keseimbangan sosial (sosial equilibrium) antara hak dan kewajiban dalam pemenuhan
kebutuhan manusia, terutama juga kondisi keseimbangan itu akan menciptakan
tatanan sosial (sosial order) dalam
proses kehidupan masyarakat saat sekarang dan di waktu yang akan datang.
Sebagaimana yang telah dijelaskan di
atas, maka interaksi sosial dalam berkelompok dan bermasyarakat, yang oleh
Habermas disebut dengan tindakan komunikasi merupakan perspektif sosiologi, dan
perspektif ini pula yang menjadi objek pengamatan sosiologi komunikasi. Fokus
interaksi sosial dalam masyarakat adalah komunikasi itu sendiri. Sebagaimana
dijelaskan oleh sosiolog bahwa komunikasi menjadi unsur terpenting dalam seluruh
kehidupan manusia. Dominasi perspektif ini dalam sosiologi yang begitu luas dan
mendalam, maka lahirlah kebutuhan untuk mengkaji kekhususan dalam studi-studi
sosiologi yang dinamakan Sosiologi Komunikasi, yaitu perspektif kajian
sosiologi tentang aspek-aspek khusus komunikasi dalarn lingkungan individu,
kelompok, masyarakat, budaya, dan dunia.
Sehubungan dengan itu, beberapa
konsep penting yang berhubungan dengan sosiologi komunikasi adalah konsep
tentang sosiologi, community, communication, telematika, merupakan konsep penting yang kemudian melahirkan
studi-studi integratif serta terkait satu sama lain sehingga melahirkan
studi-studi interelasi yang penting untuk dibicarakan di sini sekaligus juga
sebagai ruang lingkup dalam studi-studi sosiologi komunikasi.
1. Sosiologi
Sosiologi adalah ilmu yang membahas tentang berbagai aspek dalam masyarakat serta pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Sosiologi pertama kali digunakan oleh Auguste Comte yang juga dikenal sebagai bapak dari sosiologi dan kemudian diperluas menjadi suatu disiplin ilmiah oleh Herbert Spencer (Budiati, 2009). Dalam buku Sociology: Society Diving in Society (2007), pada abad ke-19, seorang filsuf Prancis bernama Auguste Comte mengungkapkan keprihatinannya tentang keadaan masyarakat Prancis setelah Revolusi Prancis booming. Dampak revolusi menimbulkan perubahan positif dengan munculnya suasana demokrasi, tetapi juga membawa perubahan negatif. Perubahan negatif berupa konflik kelas yang menyebabkan anarkisme di masyarakat. Konflik dipicu oleh kurangnya pemahaman untuk mengatasi perubahan atau hukum seperti pengaturan stabilitas sosial. Dalam kondisi seperti itu, Auguste Comte menyarankan bahwa studi tentang masyarakat harus dikembangkan menjadi ilmu yang mandiri di mana sosiologi lahir sebagai cabang termuda dari ilmu-ilmu sosial. Istilah sosiologi dipopulerkan oleh Auguste Comte dalam bukunya Cours de Philosophe Positif (1830). Secara Etimologi, Sosiologi berasal dari bahasa latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berati cerita/ilmu pengetahuan (Jamaludin,A.N. 2016), kemudian berkembang lagi menjadi kata sosial, artinya berteman, bersama, berserikat. Ungkapan ini dipublikasikan pertama kalinya dalam buku tersebut dan dijelaskan lebih rinci bahwa objek sosiologi adalah manusia dan masyarakat luas (Laksana,dkk. 2017). Sosiologi adalah ilmu yang membahas tentang berbagai aspek dalam masyarakat serta pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Sosiologi memiliki objek kajian yang jelas dan dapat diselidiki melalui metode-metode ilmiah serta dapat disusun menjadi suatu sistem yang masuk akal dan saling berhubungan. Objek kajian utama dalam sosiologi ialah struktur masyarakat, unsur sosial, sosialisasi dan perubahan sosial (Elisanti dan Rostini. T. 2009).
Pengertian Sosiologi menurut para ahli :
1. Max Weber
Sosiologi
adalah suatu ilmu yang mempelajari tindakan sosial. Tindakan sosial adalah
tindakan yang memiliki arti subjektif bagi individu dan diarahkan pada perilaku
orang lain (Sudarmi S, Indriyanto, W. 2009).
2. Pitirim Sorokin
Sosiologi
adalah suatu ilmu yang mempelajari:
a. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam
gejala-gejala sosial (misalnya antara ekonomi dengan agama, hukum dengan
ekonomi dan sebagainya)
b. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan
gejala-gejala nonsosial (misalnya gejala geografis, biologis dan sebagainya)
c. Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial.
3. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial termasuk
perubahan sosial. Menurut S. Soemardjan dan S. Soemardi, struktur sosial
merupakan keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu
kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga- lembaga sosial, kelompok
sosial, serta lapisan sosial. Sedangkan proses sosial adalah pengaruh timbal
balik antara berbagai segi kehidupan.
4. Soerjono Soekanto
Sosiologi
adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi kemasyarakatan yang bersifat
umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
5. Astrid S. Susanto
Sosiologi
tidak sekadar mempelajari berbagai hubungan. yang terjadi dalam masyarakat,
tetapi mempelajari gejala-gejala dalam masyarakat dan yang terjadi
berulang-ulang.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu
yang membahas tentang masyarakat serta proses yang timbul dari hubungan sosial
dalam masyarakat, dimana hubungan sosial diwujudkan dalam struktur sosial yang
merupakan keseluruhan jalinan antara unsur - unsur sosial yang pokok, yaitu
kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga- lembaga sosial, kelompok
sosial, serta lapisan sosial.
Pembentukan struktur sosial, dan
terjadinya proses sosial dan kemudian adanya perubahan-perubahan sosial tidak
lepas dari adanya aktivitas interaksi sosial yang menjadi salah satu ruang
lingkup sosiologi.
2. Community
Bicara Community merujuk pada konsep
masyarakat yang dalam bahasa yunani disebut Comunete yang berarti Persahabatan.
Seorang filsuf Yunani, aristoteles mengemukakan bahwa manusia hidup bersama
dalam masyarakat karena mereka menikmati ikatan saling bekerja sama, untuk
memenuhi kebutuhan dasar mereka dan untuk menemukan makna kehidupan. Masyarakat, sebagai sebuah entitas
sosial yang kompleks, telah menjadi objek kajian berbagai disiplin ilmu, mulai
dari sosiologi, antropologi, hingga ilmu politik. Interaksi manusia yang saling
terkait dan membentuk pola-pola tertentu dalam kehidupan
sehari-hari menjadi landasan terbentuknya masyarakat. Dalam artikel ini, kita
akan membahas secara mendalam mengenai pengertian masyarakat, ciri-cirinya,
serta implikasinya dalam kehidupan manusia.
A. Pengertian
Masyarakat
Secara sederhana, masyarakat dapat
didefinisikan sebagai sekelompok manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah
tertentu, saling berinteraksi, dan memiliki nilai, norma, serta budaya yang
sama. Mereka terikat oleh berbagai macam hubungan sosial, baik itu hubungan
keluarga, kekerabatan, persahabatan, hingga hubungan kerja.
Beberapa
definisi masyarakat menurut para ahli:
· Soerjono
Soekanto: Masyarakat adalah semua kesatuan
hidup manusia yang bersifat mantap dan terikat oleh satuan adat-istiadat dan
rasa identitas bersama.
·
Emile Durkheim : Masyarakat adalah
suatu realitas yang memiliki karakteristik sendiri dan tidak dapat direduksi
menjadi jumlah individu-individu yang membentuknya.
·
Max Weber : Masyarakat adalah
suatu tatanan sosial yang bersifat terbuka dan dinamis, di mana
individu-individu saling berinteraksi berdasarkan aturan-aturan tertentu.
Dalam
pengertian sosiologi, masyarakat tidak dipandang sebagai suatu kumpulan
individu-individu semata. Masyarakat merupakan suatu pergaulan hidup, oleh
karena manusia hidup bersama. Masyarakat merupakan suatu sistem yang terbentuk
karena hubungan anggota-anggotanya. Dengan kata lain, masyarakat adalah suatu
sistem yang terwujud dari kehidupan bersama manusia, yang lazim disebut dengan
sistem kemasyarakatan. Emile Durkheim (1951) menyatakan bahwa masyarakat
merupakan suatu kenyataan yang obyektif secara mandiri, bebas dari
individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya.
Cara yang baik untuk mengerti tentang
masyarakat adalah dengan menelaah ciri-ciri utama dari masyarakat itu sendiri.
Sebagai suatu pergaulan hidup atau suatu bentuk kehidupan bersama manusia, maka
masyarakat itu mempunyai ciri-ciri utama (Nurmansyah.G, 2019) yaitu:
1. Manusia
yang hidup bersama (minimal 2 orang)
2. Bergaul
selama jangka waktu cukup lama
3. Adanya
kesadaran bahwa setiap orang merupakan bagian dari satu kesatuan.
4.
Menjadi sistem hidup bersama yang
menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan antar anggota masyarkat.
Pengertian manusia yang hidup bersama
dalam ilmu sosial tidak mutlak jumlahnya, bisa saja dua orang atau lebih.
Manusia tersebut hidup bersama dalam waktu relatif lama, dan akhirnya
melahirkan manusia-manusia baru yang sahng berhubungan satu dengan lainnya.
Hubungan antara manusia itu, kemudian melahirkan keinginan, kepentingan,
perasaan, kesan, penilaiañ dan sebagainya. Keseluruhan itu kemudian mewujudkan
adanya sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara
manusia dalam masyarakat tersebut. Dalam sistem hidup tersebut, maka muncullah
budaya yang mengikat antara satu manusia dengan lainnya.
B. Ciri khas Masyarakat
Masyarakat memiliki ciri
khas yang membedakannya dengan sekumpulan individu yang tidak terorganisasi.
Berikut adalah beberapa ciri khas masyarakat (Setiawan, 2012).
1. Ada interaksi antara sesama anggota masyarakat.
Masyarakat
terjadi interaksi sosial yang merupakan hubungan sosial yang dinamis yang
menyangkut hubungan antara perseorangan, antara kelompok-kelompok, maupun
antara perseorangan dengan kelompok. Untuk terjadinya interaksi sosial harus
ada 2 syarat, yaitu kontak sosial dan komunikasi sosial.
2. Menempati wilayah dengan batas-batas tertentu.
Suatu
kelompok masyarakat menempati suatu wilayah tertentu menurut suatu keadaan
geografis sebagai tempat tinggal komunitasnya, baik dalam ruang lingkup yang
kecil (RT/RW), desa, kecamatan, kabupaten, propinsi dan bahkan negara.
3. Saling tergantung satu dengan yang lainnya.
Anggota
masyarakat yang hidup pada suatu wilayah tertentu saling tergantung satu dengan
yang lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tiap-tiap anggota masyarakat
mempunyai keterampilan sesuai dengan kemampuan dan profesi masing-masing dan
saling melengkapi.
4. Memiliki adat istiadat/budaya tertentu.
Adat
istiadat dan budaya diciptakan untuk mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat
yang mencakup bidang yang sangat luas diantara tata cara berinteraksi antara
kelompok-kelompok yang ada di masyarakat, apakakah itu dalam perkawinan,
kesenian, mata pencaharian ataupun sistem kekerabatan dan sebagainya.
5. Memiliki identitas bersama.
Suatu
kelompok masyarakat memiliki identitas yang dapat dikenali oleh anggota
masyarakat lainnya. Hal ini penting untuk menopang kehidupan dalam
bermasyarakat yang lebih luas. Identitas kelompok dapat berupa lambang, bahasa,
pakaian, simbol tertentu pada perumahan, benda tertentu, seperti: alat
pertanian, senjata tajam, kepercayaan dsb.
Ciri-ciri dan ciri khas,
sama atau berbeda ? Contoh ciri-ciri berhubungan dengan karakteristik pada
seseorang misalkan orangnya pendek, tinggi, rambut panjang, rambut ikal, kulit
hitam, putih, hidung mancung atau pesek sedangkan ciri khas contohnya murah
senyum, kalau dia ada pasti heboh dll.
C. Jenis-Jenis Masyarakat
Masyarakat dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai kriteria,
seperti ukuran, kerapatan, tingkat kompleksitas, dan tingkat modernisasi.
Beberapa jenis masyarakat yang umum dikenal adalah:
·
Masyarakat Pedesaan: Masyarakat yang
hidup di daerah pedesaan, umumnya memiliki struktur sosial yang sederhana, mata
pencaharian berbasis pertanian, dan hubungan sosial yang lebih erat.
·
Masyarakat Urban: Masyarakat yang
hidup di daerah perkotaan, memiliki struktur sosial yang kompleks, mata
pencaharian yang beragam, dan tingkat mobilitas yang tinggi.
·
Masyarakat Industri: Masyarakat yang
ekonominya didominasi oleh sektor industri. Masyarakat industri dicirikan oleh
spesialisasi pekerjaan, urbanisasi, dan penggunaan teknologi yang canggih.
·
Masyarakat Pasca-industri: Masyarakat yang
ekonominya didominasi oleh sektor jasa dan informasi. Masyarakat pasca-industri
dicirikan oleh pengetahuan sebagai modal utama, globalisasi, dan
individualisme.
3. Communication
Theodornoson and Theodornoson (1969)
memberi batasan lingkup communication
berupa penyebaran informasi, ide-ide, sikapsikap, atau emosi dan seorang atau
kelompok kepada yang lain (atau lain-lainnya) terutama melalui simbol-simbol.
Garbner (1967) mengatakan communication
dapat didefinisikan sebagai social inter
action melalui pesan-pesan (McQuail dan Windahi, tt.: 4).
Onong Uchyana mengatakan komunikasi
sebagai proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran,
atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan).
Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dan
benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keraguan, kekhawatiran,
kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dan lubuk hati.
(Uchyana, 2002: 11)
Jadi, lingkup komunikasi menyangkut
persoalan-persoalan yang ada kaitannya dengan substansi interaksi sosial
orang-orang dalam masyarakat; termasuk konten interaksi (komunikasi) yang
dilakukan secara langsung maupun dengan menggunakan media komunikasi dalam
penyampaian pesan atau informasi.
4. Teknologi
Telematika
Istilah teknologi telematika (telekomunikasi,
media, dan informatika) bermula dari istilah teknologi informasi (Information Technology atau IT. Istilah ini mulai populer di akhir
dekade 70-an. Pada masa sebelumnya, teknologi informasi masih disebut dengan
istilah teknologi komputer atau pengolahan data elektronik atau PDE (Electronic Data Processing atau EDP).
Istilah telematika lebih ke arah
penyebutan kelompok teknologi yang disebutkan secara bersama-sama, namun
sebenarnya yang dimaksudkan adalah teknologi informasi yang digunakan di media
massa serta teknologi telekomunikasi yang umumnya digunakan dalam
bidang komunikasi lainnya serta informatika; pengolahan informasi dengan
menggunakan komputer. Istilah teknologi sering kali rancu dengan istilah sistem
informasi itu sendiri dan kadang menjadi bahan perdebatan. Ada yang menggunakan
istilah teknologi informasi untuk menjabarkan sekumpulan sistem informasi,
pemakai, dan manajemen. Pendapat mi menggambarkan teknologi dalam perspektif
yang luas. Namun, kalau didasarkan pada
definisi sistem informasi menurut Alter di depan, teknologi informasi hanyalah
bagian dan sistem informasi.
Menurut kamus Oxford (1995),
teknologi informasi adalah studi atau penggunaan peralatan elektronika,
terutama komputer, untuk mengolah, menyimpan, menganalisis, dan mendistribusikan
informasi apa saja, termasuk kata-kata, bilangan, dan gambar. Menurut Alter
(1992), teknologi informasi mencakup perangkat keras dan perangkat lunak untuk melakukan
pemrosesan data seperti mengolah, menyimpan,
memanipulasi, atau menampilkan data. Martin (1999) mendefinisikan teknologi
informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan
perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi,
melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi. Mikrokomputer,
komputer mainframe, pembaca barcode, perangkat lunak pemroses
transaksi, perangkat lunak lembar kerja (spreadsheet),
dan peralatan kornunikasi dan jaringan merupakan contoh teknologi informasi
(Kadir, 2003: 28).
Secara garis besar, teknologi
informasi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian; perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Perangkat keras menyangkut
pada peralatan-peralatan yang bersifat fisik, seperti memori, printer, dan
keyboard. Adapun perangkat lunak terkait dengan instruksi-instruksi untuk
mengatur perangkat keras agar bekerja sesuai dengan tujuan instruksi-instruksi
tersebut.
5. Sosiologi
Komunikasi
Menurut Soerjono Soekanto (Soekanto,
1992), sosiologi komunikasi merupakan kekhususan sosiologi dalam mempelajari
interaksi sosial yakni suatu hubungan atau komunikasi yang menimbulkan proses
saling pengaruh-memengaruhi antara para individu, individu dengan kelompok
maupun antarkelompok. Menurut Soekanto, Sosiologi Komuniksi juga ada kaitannya
dengan public speaking, yaitu
bagaimana seseorang berbicara kepada publik.
Secara komprehensif Sosiologi
Komunikasi mempelajari tentang interaksi sosial dengan segala aspek yang
berhubungan dengan interaksi tersebut seperti bagaimana interaksi (komunikasi)
itu dilakukan dengan menggunakan media, bagaimana efek media sebagai akibat dan
interaksi tersebut, sampai dengan bagaimana perubahan-perubahan sosial di
masyarakat yang didorong oleh efek media berkembang serta konsekuensi sosial
macam apa yang ditanggung masyarakat sebagai akibat dan perubahan yang didorong
oleh media massa itu.
Komunikasi
di dalam masyarakat dibagi dalam 5 jenis:
1. Komunikasi
individu dengan individu (komunikasi antarpribadi)
Komunikasi
antarpribadi adalah komunikasi antar-perorangan dan bersifat pribadi baik yang
terjadi secara langsung (tanpa medium) ataupun tidak langsung (melalui medium).
Contohnya kegiatan percakapan tatap muka, percakapan melalui telepon, surat
menyurat pribadi. Fokus pengamatannya adalah bentuk-bentuk dan sifat-sifat
hubungan (relationship), percakapan (discourse), interaksi dan karakteristik
komunikator.
2. Komunikasi
kelompok
Komunikasi
kelompok, memfokuskan pembahasannya kepada interaksi di antara orang-orang
dalam kelompok-kelompok kecil. Komunikasi kelompok juga melibatkan komunikasi
antarpribadi. Bahasan teoritisnya meliputi dinamika kelompok, efisiensi dan
efektivitas penyampaian informasi dalam kelompok, pola dan bentuk interaksi,
serta pembuatan keputusan.
3. Komunikasi
organisasi
Komunikasi
organisasi menunjuk pada pola dan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks
dan jaringan organisasi. Komunikasi organisasi melibatkan bentuk-bentuk
komunikasi antarpribadi dan komunikasi kelompok. Pembahasannya meliputi
struktur dan fungsi organisasi, hubungan antarmanusia, komunikasi dan proses
pengorganisasian, serta kebudayaan organisasi. Contohnya komunikasi organisasi
dengan pola bintang, rantai dan Y.
4. Komunikasi
sosial
Komunikasi
sosial (Astrid, 1992: 1) adalah salah satu bentuk komunikasi yang lebih
intensif, di mana komunikasi terjadi secara langsung antara komunikator dan
komunikan, sehingga situasi komunikasi berlangsung dua arah dan lebih diarahkan
kepada pencapaian suatu situasi integrasi sosial, melalui kegiatan ini
terjadilah aktualisasi dan berbagai masalah yang dibahas. Komunikasi sosial
sekaligus suatu proses sosialisasi dan untuk pencapaian stabilitas sosial,
tertib sosial, penerusan nilai-nilai lama dan baru yang diagungkan oleh suatu
masyarakat melalui komunikasi sosial kesadaran masyarakat dipupuk, dibina dan
diperluas. Melalui komunikasi sosial, masalah-masalah sosial dipecahkan melalui
konsensus.
5.
Komunikasi massa
Komunikasi
massa menurut McQuail (1994: 6) adalah komunikasi yang berlangsung pada tingkat
masyarakat luas. Pada tingkat ini komunikasi dilakukan dengan menggunakan media
massa. Selanjutnya McQuail mengatakan ciri-ciri utama kornunikasi massa;
sumbernya adalah organisasi formal dan pengirimnya adalah profesional; pesannya
beragam dan dapat diperkirakan; pesan diproses dan distandarisasikan; pesan
sebagai produk yang memiliki nilai jual dan makna simbolik; hubungan antara
komunikan dan komunikator berlangsung satu arah; bersifat impersonal,
non-moral, dan kalkulatif.
Dengan demikian, lingkup komunikasi
massa menyangkut sumber pemberitaan, pesan komunikasi, hubungan komunikan dan
komunikator, dan dampak pemberitaan terhadap masyarakat.
Menurut Effendy (2001: 6-9), ikhtisar
mengenai lingkup ilmu komunikasi ditinjau dari unsurnya, bentuknya, sifatnya,
metodenya, tekniknya, modelnya, bidangnya, dan sistemnya.
1.
Komponen Komunikasi
a. Komunikator (communicator)
b. Pesan(message)
c. Media (media)
d. komunikan (communicant)
2.
Bentuk Komunikasi
a. Komunikasi
Personal (Personal Communication)
1) Komunikasi
intrapersonal (intrapersonal communication)
2)
Komunikasi antarpersonal (interpersonal
communication)
b. Komunikasi
Kelompok (Group Communication)
1)
Komunikasi kelompok kecil (small group
communication)
a) ceramah
(lecture)
b) diskusi
panel (panel discussion)
c)
simposiuth (symposium)
d) forum
e) seminar
f) curah
saran (brainstorming)
g) dan
lain-lain.
2) Komunikasi kelompok besar (large group communication/ public speaking)
c. Komunikasi
Massa (Mass communication)
1) Pers
2) Radio
3) Televisi
4) Film dll
5) dan lain-lain
d. Komunikasi Media (Media Communication)
1) Surat
2) Telepon
3) Pamfiet
4) Poster
5) Spanduk
6) dan lain-lain
3.
Sifat Komunikasi
a. Tatap muka (face-to-face)
b. Bermedia (mediated)
c. Verbal (verbal)
1) lisan (oral)
2)
tulisan/cetak (written/printed)
d. Nonverbal (non-verbal)
1) Kinesik
(Gestural, facial, postural)
2)
Bergambar (pictorial)
4.
Metode Komunikasi
a.
Jurnalistik (Journalism)
1)
Jurnalistik cetak (printed journalism)
2)
Jurnalistik elektronik (electronic
journalism)
3)
Jurnalistik radio (radio journalism)
4)
Jurnalistik televisi (television
journalism)
b.
Hubungan masyarakat (public relations)
c. Periklanan
(advertising)
d. Pameran
(exhibition/exposition)
e.
Publisitas (publicity)
f.
Propaganda
g.
Penerangan
5.
Teknik Komunikasi
a.
Komunikasi informatif (informative
communication)
b.
Komunikasi persuasif (persuasive
communication)
c.
Komunikasi instruktif/Koersif (instructive
/coersive communication)
d.
Hubungan manusiawi (human relations)
6.
Tujuan Komunikasi
a.
Perubahan sikap (attitude change)
b.
Perubahan pendapat (opinion change)
c.
Perubahan perilaku (behavior change)
d.
Perubahan sosial (social change)
7.
Fungsi Komunikasi
a. Mengiformasikan/menyampaikan informasi (to inform)
b. Mendidik (to
educate)
c. Menghibur (to
entertain)
d. Mempengaruhi (to
influence)
8.
Model Komunikasi
a. Komunikasi satu tahap/Linear (one step flow communication)
b. Komunikasi dua tahap/Transaksional (two step flow communication)
c. Komunikasi multitahap/Interaksional (multistep flow communication)
9. Bidang Komunikasi
a.
Komunikasi sosial (social communication)
b.
Komunikasi manajemen/organisasional (manajement / organizational communication)
c.
Komunikasi perusahaan (business communication)
d.
Komunikasi politik (political communication)
e.
Komunikasi internasional (internasional communication)
f.
Komunikasi antarbudaya (intercultural communication)
g.
Komunikasi pembangunan (development communication)
h.
Komunikasi lingkungan (environmental communication)
i.
Komunikasi tradisional (traditional communication)
B.
Ranah,
Kompleksitas, Dan Objek Sosiologi Komunikasi
Ranah sosiologi komunikasi berada
pada wilayah individu, kelompok, masyarakat, dan sistem dunia. Di mana ranah
ini bersentuhan dengan wilayah lain, seperti teknologi telematika,kommunikasi,
proses dan interaksi sosial, serta budaya kosmopolitan.
Ranah sosiologi komunikasi berbeda
dengan studi-studi komunikasi dan sosiologi secara keseluruhan, dengan kata
lain objek sosiologi komunikasi tidak sama dengan sosiologi secara umurn,
begitu juga sosiologi komunikasi tidak mengambil objek komunikasi secara utuh,
akan tetapi sosiologi komunikasi menjembatani studi studi sosiologi dan
studi-studi komunikasi di mana jembatan itu dibangun berdasarkan kajian
sosiologi tentang interaksi sosial yang dalam sosiologi juga dikenal dengan
subkajian masalah-masalah komunikasi, kemudian menariknya ke dalam studi
komunikasi yang berkaitan erat dengan sosiologi yaitu studi-studi media, dampak
media maupun perkembangan teknologi komunikasi. Namun karena begitu dekatnya
studi-studi sosiologi dan studi-studi. komunikasi, maka kajian sosiologi
komunikasi mi berkembang menjadi satu kajian yang tidak bisa lagi dibedakan
secara sosiologis dengan komunikasi. Dalam arti ketika kita membahas kasuskasus
sosiologi komunikasi, maka akan ditemukan sebuah kenyataan bahwa apa yang menjadi
perhatian sosiologi itu jugalah yang menjadi perhatian komunikasi. Hal ini
terjadi karena ranah sosiologi komunikasi adalah kajian utama dan terpenting
dan kajian sosiologi dan kajian komunikasi itu sendiri, yaitu individu,
kelompok, masyarakat, dunia, dan segala interaksinya.
Studi-studi sosiologi komunikasi selain bersifat interdisipliner dan terbuka terhadap sumbangan disiplin ilmu lain sebagaimana Gambar 2 di atas, sosiologi komunikasi juga memiliki objek kajian yang terbuka luas setiap saat, seirama dengan cepatnya perubahanperubahan sosial-budaya dan teknologi media yangberkembang di masyarakat beserta semua aspek yang mengikutinya.
Saat ini, kendali arah perkembangan
sosiologi kornunikasi ditentukan oleh pesatnya perkembangan dunia teknologi komunikasi
yang kemudian secara simultan memengaruhi ranah-ranah sosial dan budaya
masyarakat di setiap lapisan masyarakat. Dengan demikian, maka luasan objek
kajian sosiologi komunikasi juga ikut di- pengaruhi oleh perkembangan
ranah-ranah sosial-budaya dan teknologi media itu dengan segala aspek yang
mengikutinya.
Sejauh itu pun kajian sosiologi
komunikasi merasa selalu tertinggal jauh dan perkembangan teknologi komunikasi.
Berbagai teori dirasakan cepat usang dan sudah tidak up to-date lagi, begitu pula perspektif yang awalnya dianggap
penting untuk dikembangkan dalam studi-studi sosiologi komunikasi menjadi
semakin kompleks dalam waktu singkat. Bagitu pula kaitannya studi-studi
sosiologi komunikasi dengan disiplin ilmu lainnya setiap saat dipandang sangat
membantu kajian-kajian sosiologi komunikasi. Sementara kekhawatiran yang ada
bahwa terasa begitu sedikit para ahli yang ikut memikirkan kajian mi, padahal
kenyataannya sudah sangat banyak di masyarakat. Salah satu pemicu perkembangan
sosiologi komunikasi yang cepat mi disebabkan karena sosiologi komunikasi
menganggap bahwa saat mi perkembangan teknologi selalu mendahului perkembangan
teori (di mana pada waktu-waktu sebelumnya gejala mi justru sebaliknya). Pacu
memacu antara teknologi dan teori di ranah wacana, aplikasi, dan masyarakat
inilah yang kemudian setiap saat melebarkan arena objek sosiologi komunikasi
itu. Berdasarkan penjelasan mengenai ranah sosiologi komunikasi dan
kompleksitas studi sosiologi komunikasi, maka objek sosiologi kornunikasi
adalah seperti di halaman berikut.
Setiap bidang ilmu dalam rumpun
ilmu-ilmu sosial memiliki objek kajian formal yang sama yaitu manusia. Manusia
adalah objek yang tak pernah habis dibahas dan berbagai aspek dan sudut.
pandang, baik dalam konteks mikro maupun makro, konteks fisik maupun metafisika,
bahkan dalam konteks spiritualnya. Objek formal manusia yang dimaksud adalah
dalam konteks individu, kelompok, masyarakat, dunia, serta aspek-aspek
sosiologis yang mengitarinya.
Objek formal dalam studi sosiologi
komunikasi menekankan pada aspek aktivitas manusia sebagai makhluk sosial yang
melakukan aktivitas sosiologis yaitu proses sosial dan komunikasi, aspek mi
merupakan aspek dominan dalam kehidupan mariusia bersama orang lain. Aspek
lainnya adalah telematika dan realitasnya. Aspek ini rnenyangkut persoalan
teknologi media, teknologi komunikasi, dan berbagai persoalan konvergensi yang
ditimbulkannya termasuk realitas maya yang dihasilkan oleh telematika sebagai
sebuah ruang publik baru yang tanpa batas dan memiliki masa depan yang cerah
bagi ruang kehidupan. Sebaliknya perkembangan telematika dan aspek-aspeknya
serta pengaruhnya terhadap perkembangan media massa memberikan efek yang luar
biasa pada masyarakat. Efek media memiliki ruang bahasan yang luas terhadap
konsekuensinya pada proses-proses sosial itu sendiri, baik menyangkut individu,
kelompok, masyarakat maupun dunia, termasuk pula aspek-aspek yang merusak,
seperti kekerasan, pelecehan, penghinaan, bahkan sampai pada masalah-masalah
kriminal. Pengaruhpengaruh efek media juga ikut membentuk life style dan lahirnya norma sosial baru di masyarakat terutama
pada masyarakat kosmopolitan, sekuler, cerdas, profesional, materialis dan
hedonis, serta modis.
Perkembangan telematika tidak saja memasuki ranah sosial, namun juga memasuki ranah hukum dan bisnis. Hal mi disebabkan oleh konsekuensi dominasi telematika dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. Ketika telematika sampai pada kemampuannya menciptakan masyarakat baru yaitu cybercommunity, maka kebutuhan akan cyberlaw menjadi mutlak ada untuk mengatur seluruh fungsi sirkulasi dan peredaran aspek-aspek kehidupan sosial (dalam dunia cyber) sebagaimana kebutuhan sebuah sistem sosial itu sendiri. Karena sadar ataupun tidak aspek hukum dan bisnis akan mendominasi cybercommunity selain pencitraan itu sendiri.